"tinta dari ilham si kerdil yg mencari selautan MARDHATILLAH ini hanyalah pandangan diri saya dlm menjalani kehidupan harian...sedikit perkongsian diselitkan buat renungan bersama...penulisan ini tiada selain dari hanya..thalaban liridha ar rahman(mencari keredhaanNya) dan shirahan liqulubil ikhwan (menyenangkan hati sahabat2).."

..mg ALLAH mengampuniku dgn setiap pembacaan,ampuni keluargaku,ampuni muslimin muslimat keseluruhannya..

Saturday, November 22, 2008

kuliah ustaz Abu Mushlih Ari Wahyudi dari Masjid Kehutanan UGM


DALIL YANG HALAL DAN YANG HARAM TELAH JELAS

عن أبي عبدالله النعمان بن بشير رضي الله عنهما قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ” إن الحلال بين و الحرام بين , وبينهما مشتبهات قد لا يعلمهن كثير من الناس , فمن اتقى الشبهات فقد استبرأ لدينه وعرضه , ومن وقع في الشبهات فقد وقع في الحرام , كالراعي يرعى حول الحمى يوشك أن يرتع فيه , ألا وأن لكل ملك حمى , ألا وإن حمى الله محارمه , إلا وإن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله , وإذا فسدت فسد الجسد كله , ألا وهي القلب

Dari Abu ‘Abdillah An-Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhuma berkata,”Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya yang Halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan diantara keduanya ada perkara yang samar-samar, kebanyakan manusia tidak mengetahuinya, maka barangsiapa menjaga dirinya dari yang samar-samar itu, berarti ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya, dan barangsiapa terjerumus dalam wilayah samar-samar maka ia telah terjerumus kedalam wilayah yang haram, seperti penggembala yang menggembala di sekitar daerah terlarang maka hampir-hampir dia terjerumus kedalamnya. Ingatlah setiap raja memiliki larangan dan ingatlah bahwa larangan Alloh apa-apa yang diharamkan-Nya. Ingatlah bahwa dalam jasad ada sekerat daging jika ia baik maka baiklah seluruh jasadnya dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati”.

[Bukhari no. 52, Muslim no. 1599]

Bahagian hadis yang berbunyi.. “Sesungguhnya yang Halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan diantara keduanya ada perkara yang samar-samar”

maksudnya dalam sesuatu perkara itu terbahagi kpd 3 keadaan..haram,syubahat dan halal..

Sesuatu yang ditegaskan halalnya oleh Allah,maka adalah halal, seperti firman Allah (QS. Al-Maa’idah 5 : 5),”Aku Halalkan bagi kamu hal-hal yang baik dan makanan (sembelihan) ahli kitab halal bagi kamu” dan firman-Nya dalam (QS. An-Nisaa 4:24), “Dan dihalalkan bagi kamu selain dari yang tersebut itu” dan lain-lainnya.

segala yang haram itu telah jelas di hukumkan dalam Al-Quran..seperti ayat-ayat berikut:

(QS. An-Nisaa’ 4:23), “Diharamkan bagi kamu (menikahi) ibu-ibu kamu, anak-anak perempuan kamu …..” dan firman Allah (QS. Al-Maa’idah 5:96), “Diharamkan bagi kamu memburu hewan didarat selama kamu ihram”. Juga diharamkan perbuatan keji yang terang-terangan maupun yang tersembunyi. Setiap perbuatan yang Allah mengancamnya dengan hukuman tertentuatau siksaan atau ancaman keras, maka perbuatan itu haram.

al halalu bayyin..wal haramu bayyin.. (yang halal itu dh jelas,yg haram itu juga dh jelas) الحلال بين و الحرام بين

Dan mengenai perkara yang syubhat (samar2) iaitu setiap hal yang dalilnya masih dalam pembicaraan atau pertentangan, maka menjauhi perbuatan seumpama itu termasuk wara’(memelihara diri).Ulama2 mempunyai pendapat yang berbeza dalam perkara syubhat..Sebahagian Ulama berpendapat bahawa perkara syubhat adalah haram hukumnya berdasarkan sabda Rasulullah, “barangsiapa menjaga dirinya dari yang samar-samar itu, berarti ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya”.Maka sesiapa yg tidak menyelamatkan agama dan kehormatannya, bermakna dia telah terjerumus kedalam perbuatan haram.

Sebagian lain lagi berkata bahwa syubhat yang tersebut pada hadis ini tidak dapat dikatakan halal atau haram, kerana Rasulullah menempatkannya diantara halal dan haram, oleh sbb itu kita memilih diam saja, dan berdiam diri dari perkara syubhat itu termasuk sifat wara’ juga.Menjauhi sesuatu keadaan yg boleh timbulnya fitnah juga adalah merupakan sebahagian dari memelihara diri dari perkara syubhat.

Sebagian Ulama berpendapat, syubhat itu ada tiga macam :

  1. Sesuatu yang sudah diketahui haramnya oleh manusia tetapi orang itu ragu apakah masih haram hukumnya atau tidak. misalnya makan daging haiwan yang tidak pasti cara penyembelihannya, maka daging seperti ini haram hukumnya kecuali terbukti dengan yakin telah disembelih (sesuai aturan Allah).
  2. Sesuatu yang halal tetapi masih diragukan kehalalannya, seperti seorang laki-laki yang punya istri namun ia ragu-ragu, apakah dia telah menjatuhkan thalaq kepada istrinya atau belum, ataukah isterinya seorang perempuan budak atau sudah dimerdekakan. Hal seperti ini hukumnya mubah(harus) hingga diketahui kepastian haramnya, dasarnya adalah hadits ‘Abdullah bin Zaid yang ragu-ragu tentang hadas, padahal sebelumnya ia yakin telah bersuci.
  3. Seseorang ragu-ragu tentang sesuatu dan tidak tahu apakah hal itu haram atau halal, dan kedua kemungkinan ini bisa terjadi sedangkan tidak ada petunjuk yang menguatkan salah satunya. Hal semacam ini sebaiknya dihindari, sebagaimana Rasulullah pernah melakukannya pada kasus sebuah kurma yang jatuh yang beliau temukan dirumahnya, lalu Rasulullah bersabda : “Kalau saya tidak takut kurma ini dari barang zakat, tentulah saya telah memakannya”.Adapun orang yang mengambil sikap hati-hati yang berlebihan, seperti tidak menggunakan air bekas yang masih suci karena khuwatir terkena najis, atau tidak mahu solat disuatu tempat yang bersih karena khuwatir ada bekas air kencing yang sudah kering, mencuci pakaian karena khuwatir pakaiannya terkena najis yang tidak diketahuinya dan sebagainya, sikap seperti ini tidak perlu diikuti, sebab berhati-hati yang berlebihan tanda adanya halusinasi dan bisikan syaitan serta was was, kerana dalam masalah tersebut tidak ada masalah syubhat sedikitpun. Wallahu a’lam.

Bahagian, “kebanyakan manusia tidak mengetahuinya” maksudnya tidak mengetahui tentang halal dan haramnya, atau orang yang mengetahui hal syubhat tersebut didalam dirinya masih tetap menghadapi keraguan antara dua hal tersebut, jika dia mengetahui sebenarnya atau kepastiannya, maka keraguannya menjadi hilang sehingga hukumnya PASTI halal atau haram. Hal ini menunjukkan bahawa masalah syubhat mempunyai hukum tersendiri yang diterangkan oleh syari’at sehingga sebahagian orang ada yang mampu mengetahui hukumnya dengan jelas.

Kemudia dalam bahagian, “maka barangsiapa menjaga dirinya dari yang samar-samar itu, berarti ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya” maksudnya menjaga dari perkara yang syubhat.

Kalimat, “barangsiapa terjerumus dalam wilayah samar-samar maka ia telah terjerumus kedalam wilayah yang haram” ...diibaratkan tiap-tiap raja memiliki kawasan larangan dan andai memasukinya akan dihukum..Maka ALLAH yang Maha Berkuasa juga memiliki sempadan larangan iaitu segala yang haram..dianalogikan seperti gembala kambing yang mebawa haiwan ternakannya meragut di kawasan berdekatan kawasan terlarang.Walaupun pada awalnya tidak ada sesuatu yang membahayakannya dan ternakannya pada zahir tetapi bila sudah kerap kali dalam keadaan itu,memungkinkan untuk terjerumus ke dalam kws larangan (perbuatn yang haram) tanpa disedari..na'uzubillahi min zalik..hal ini boleh terjadi dalam dua keadaan :

  1. Orang yang tidak bertaqwa kepada Allah dan tidak mempedulikan perkara syubhat maka hal semacam itu akan menjerumuskannya kedalam perkara haram, atau karena sikap sembrononya membuat dia berani melakukan hal yang haram, seperti kata sebahagian orang : “Dosa-dosa kecil dapat mendorong perbuatan dosa besar dan dosa besar mendorong pada kekafiran”
  2. Orang yang sering melakukan perkara syubhat bererti telah menzalimi hatinya, karena hilangnya cahaya ilmu dan sifat wara’ kedalam hatinya, sehingga tanpa disadari dia telah terjerumus kedalam perkara haram. Terkadang hal seperti itu menjadikan perbuatan dosa jika menyebabkan pelanggaran syari’at

Kalimat, “Ingatlah bahwa dalam jasad ada sekerat daging jika ia baik maka baiklah seluruh jasadnya” yang dimaksud adalah hati, betapa pentingnya daging ini walaupun bentuknya kecil, daging ini disebut Al-Qalb (hati) yang merupakan anggota tubuh yang paling terhormat, karena ditempat inilah terjadi perubahan gagasan(sesuatu perkara), sebahagian penyair bersenandung, “Tidak dinamakan hati kecuali karena menjadi tempat terjadinya perubahan gagasan, karena itu waspadalah terhadap hati dari perubahannya”

Allah berfirman, “Tidakkah mereka mau berkelana dimuka bumi karena mereka mempunyai hati untuk berfikir, atau telinga untuk mendengar…” (QS. Al-Hajj 22:46). Allah telah melengkapi dengan anggota tubuh yang lain untuk tunduk dan patuh kepada akal. Apa yang sudah dipertimbangkan akal, anggota tubuh tinggal melaksanakan keputusan akal itu, jika akalnya baik maka perbuatannya baik, jika akalnya bejat, perbuatannya juga pincang.

Bila kita telah memahami hal diatas, maka kita dapat menangkap dengan jelas sabda Rasulullah , “Ingatlah bahwa dalam jasad ada seketul daging jika ia baik maka baiklah seluruh jasadnya dan jika ia rosak maka rosaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati”.
Kita memohon kepada Allah semoga Dia menjadikan hati kita yang jelek menjadi baik, wahai Tuhan yang membolak balikkan hati, teguhkanlah hati kami pada agama-Mu, wahai Tuhan pengendali hati, arahkanlah hati kami untuk taat kepada-Mu.

moga perkongsian ini bermanfaat buat semua..

P/S:rakan2 di jogja,manfaatkan kuliah2 yg ada di sana..=)...jzkkk to kajian jogja...

_ISLAM MILIK BERSAMA_

0 pesanan:

 

Ilham Al Adwa' Copyright © 2008 Black Brown Pop Template by Ipiet's Blogger Template